Napak Tilas
Beranda / Napak Tilas / Ka’bah dan Masjidil Haram

Ka’bah dan Masjidil Haram

Bayangkan ada satu titik di muka bumi yang menjadi poros bagi lebih dari dua miliar umat manusia. Titik itu bukan sekadar arah, melainkan lambang kesatuan, ketaatan, dan kerinduan spiritual. Ka’bah, yang terletak di jantung Masjidil Haram di kota suci Makkah, adalah arah kiblat yang menyatukan gerakan jutaan muslim saat rukuk dan sujud, lima kali sehari, dari berbagai penjuru dunia. Tak peduli di mana mereka berada—di tengah keramaian New York, di pedalaman Kalimantan, atau di tengah padang pasir Sahara—semua menghadap pada satu arah yang sama: Ka’bah.

Masjidil Haram sendiri bukan sekadar bangunan megah dengan sejarah ribuan tahun. Ia adalah tempat tersuci dalam Islam, yang keutamaannya diabadikan dalam banyak ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi. Rasulullah SAW bersabda, “Satu salat di Masjidil Haram lebih utama daripada seratus ribu salat di masjid lain.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan Hakim). Sebagai pusat ibadah haji dan umrah, Masjidil Haram menjadi titik pertemuan jutaan hati yang merindu; menjadi destinasi akhir dari perjalanan spiritual panjang yang penuh doa dan air mata.

Setiap tahun, jutaan muslim datang dari pelosok dunia untuk menunaikan ibadah haji dan umrah. Mereka thawaf mengelilingi Ka’bah, berdoa di Multazam, mencium atau memberi isyarat pada Hajar Aswad, salat di dekat Maqam Ibrahim. Semuanya berpulang pada satu hal: titik nol penghambaan manusia kepada Tuhannya.

Sejarah Pendirian

Tak lengkap membahas Masjidil Haram tanpa menelusuri awal mula Ka’bah, rumah suci yang menjadi pusat ibadah umat Islam. Ka’bah bukanlah bangunan biasa, melainkan bangunan yang pembangunannya diperintahkan langsung oleh Allah SWT, melalui tangan dua hamba-Nya yang mulia: Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS.

Al-Qur’an mengabadikan momen sakral ini dalam surah Al-Baqarah ayat 127:

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَٰهِيمُ ٱلْقَوَاعِدَ مِنَ ٱلْبَيْتِ وَإِسْمَـٰعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan dasar-dasar Baitullah bersama

Ismail (seraya berdoa): ‘Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’” (QS. Al-Baqarah: 127)

Ka’bah, dalam bahasa Arab berarti “yang berbentuk kubus”, disebut juga al-Bayt al-‘Atiq (rumah tua), karena dipercaya telah ada sejak zaman purba dan dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Bangunan ini terdiri dari batu-batu hitam yang disusun tanpa semen, dan dulunya tidak memiliki atap.

Dalam masa pra-Islam, Ka’bah telah menjadi pusat ziarah kaum Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya. Sayangnya, kesuciannya ternoda oleh praktik jahiliah: patung-patung berhala diletakkan mengelilingi Ka’bah, bahkan di dalamnya. Kaum Quraisy melakukan berbagai ritual yang menyimpang dari ajaran Tauhid, termasuk thawaf dalam keadaan telanjang dan penyembahan berhala.

Renovasi dan Perubahan

Ka’bah mengalami beberapa kali renovasi, baik karena usia bangunan maupun kerusakan akibat bencana. Berikut garis waktu penting perubahan struktur Ka’bah:

1. Renovasi oleh Kaum Quraisy (Sebelum Kenabian)

Pada masa muda Nabi Muhammad SAW, Ka’bah sempat rusak karena banjir. Kaum Quraisy memutuskan untuk merenovasi total bangunan tersebut. Dalam pembangunan ini, terjadi peristiwa penting: perselisihan antar kabilah mengenai siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad di tempatnya. Rasulullah SAW dengan kebijaksanaannya mengusulkan agar batu itu diletakkan di atas kain, lalu diangkat bersama-sama oleh perwakilan kabilah. Beliau sendiri yang meletakkan batu tersebut pada posisinya—momen ini menjadi simbol kedamaian dan kepemimpinan beliau.

2. Masa Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin

Setelah Fathu Makkah, Rasulullah SAW membersihkan Ka’bah dari berhala dan mengembalikan kesuciannya. Namun, beliau tidak mengubah bentuk bangunan yang ada saat itu karena pertimbangan psikologis masyarakat Quraisy yang baru masuk Islam. Beliau bersabda kepada Aisyah RA:

Wahai Aisyah, seandainya kaummu tidak baru saja keluar dari kekufuran, pasti aku akan bongkar Ka’bah, lalu aku bangun lagi sesuai fondasi Ibrahim.” (HR. Bukhari dan Muslim).

3. Masa Khalifah Abdullah bin Zubair (684 M)

Khalifah ini memenuhi keinginan Nabi SAW dengan membangun Ka’bah sesuai fondasi Nabi Ibrahim: memperluasnya dan menambahkan bagian yang dikenal sebagai Hijr Ismail ke dalam struktur bangunan.

4. Masa Dinasti Umayyah (705 M)

Abdul Malik bin Marwan, Khalifah Umayyah, membongkar dan membangun kembali Ka’bah dengan mengembalikan bentuknya ke versi Quraisy, seperti yang dilakukan sebelum masa Rasulullah SAW. Hal ini dilakukan atas pendapat politik dan fiqih saat itu.

5. Era Abbasiyah dan Selanjutnya

Ka’bah terus direnovasi seiring berjalannya waktu, terutama pascagempa atau kebakaran. Namun, bentuk dasarnya tetap seperti sekarang ini: struktur kubus setinggi sekitar 15 meter, sisi sekitar 12 meter, dengan Hajar Aswad terletak di sudut timur dan pintu Ka’bah berada di sisi timur sejajar matahari terbit.

6. Pemugaran oleh Pemerintah Arab Saudi

Kerajaan Arab Saudi, terutama sejak era Raja Abdul Aziz hingga Raja Salman saat ini, telah melakukan berbagai restorasi besar-besaran. Renovasi modern dilengkapi dengan teknologi canggih untuk pelestarian batu, pendingin, drainase anti-banjir, dan sistem keamanan untuk peziarah. Pintu Ka’bah juga diganti dengan yang dilapisi emas 24 karat.

Arsitektur dan Simbolisme

Ka’bah bukan hanya bangunan fisik, tetapi simbol utama tauhid (keesaan Allah) dan pusat orientasi spiritual umat Islam di seluruh dunia. Secara arsitektural, Ka’bah adalah bangunan berbentuk kubus dengan tinggi sekitar 13,1 meter, panjang sisi sekitar 11,03 meter (utara-selatan) dan 12,62 meter (timur-barat). Dindingnya terbuat dari batu granit dari perbukitan di sekitar Mekah. Bangunan ini berdiri kokoh di tengah pelataran Masjidil Haram, menjadi titik sentral thawaf dan arah kiblat bagi lebih dari 1,9 miliar Muslim di dunia.

Salah satu ciri paling mencolok dari Ka’bah adalah Kiswah, kain hitam yang menutupi seluruh bangunan. Kiswah terbuat dari sutra hitam berkualitas tinggi, disulam dengan benang emas dan perak yang membentuk ayat-ayat Al-

Qur’an, seperti Surah Al-Ikhlas dan Surah Al-Baqarah. Kiswah diganti setiap tahun pada tanggal 9 Dzulhijjah, sehari sebelum puncak ibadah haji (wukuf di Arafah). Proses pembuatan Kiswah dilakukan di kompleks khusus di Makkah oleh para pengrajin profesional, dan biayanya mencapai jutaan riyal Saudi. Upacara penggantian Kiswah berlangsung khidmat, menggambarkan penghormatan luar biasa terhadap rumah Allah.

Hajar Aswad, atau batu hitam, tertanam di sudut timur Ka’bah. Menurut riwayat, batu ini berasal dari surga, diberikan kepada Nabi Ibrahim sebagai penanda awal thawaf. Awalnya batu ini bersinar terang, namun menjadi hitam karena dosa-dosa manusia yang menciumnya. Umat Islam disunnahkan mencium atau menyentuhnya saat thawaf, sebagaimana dilakukan Nabi Muhammad SAW. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Umar bin Khattab, Rasulullah SAW mencium batu itu dengan penuh cinta sebagai bagian dari sunnah ibadah, bukan penyembahan terhadap benda.

Maqam Ibrahim, yang terletak beberapa meter dari Ka’bah, adalah batu pijakan yang dipercaya sebagai tempat Nabi Ibrahim berdiri saat membangun Ka’bah bersama putranya, Ismail. Di dalam Maqam Ibrahim terdapat cetakan dua telapak kaki, yang dilindungi oleh kubah kaca dan pagar emas. Dalam QS Al-Baqarah: 125 disebutkan, “…Dan jadikanlah Maqam Ibrahim sebagai tempat salat…” — ini menjadi dasar dianjurkannya salat dua rakaat setelah thawaf di belakang tempat tersebut. Maqam Ibrahim menjadi simbol kerja keras, keteguhan iman, dan warisan tauhid dari generasi Nabi.

Dengan struktur, ornamen, dan elemen spiritual yang kaya, Ka’bah bukan hanya monumen suci, melainkan juga narasi iman yang hidup — menyatukan masa lalu, kini, dan masa depan umat Islam dalam satu titik ibadah. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer Bulan Ini

Pilihat Editor

No posts found

× Advertisement
× Advertisement