Kajian
Beranda / Kajian / Sebaik-baik Bekal Adalah Taqwa

Sebaik-baik Bekal Adalah Taqwa



Setiap musim haji tiba, pemandangan yang selalu berulang adalah kesibukan jamaah menyiapkan segala macam kebutuhan. Ada yang sibuk memilih koper besar dengan roda empat agar mudah ditarik, ada pula yang repot menimbang baju ihram supaya tidak kelebihan bagasi. Belum lagi obat-obatan pribadi, vitamin, sandal, hingga uang saku riyal yang ditukar jauh-jauh hari. Semua terasa penting, karena perjalanan haji memang melelahkan dan penuh tantangan.
Namun, Al-Qur’an justru memberikan sebuah pengingat yang menyejukkan sekaligus menegur:
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. al-Baqarah [2]:197).
Ayat ini seakan berkata, “Benar, kalian butuh bekal fisik agar kuat berjalan. Tapi jangan lupakan bekal yang lebih hakiki: taqwa.” Bekal fisik akan habis: uang bisa menipis, tenaga bisa melemah, koper bisa hilang. Tetapi taqwa adalah bekal yang tidak pernah tertinggal, bahkan tetap menemani hingga pulang kembali ke tanah air.
Inilah pesan mendasar: jangan sampai kita sibuk dengan logistik perjalanan, tetapi lupa dengan logistik rohani.

Makna “Zād”
Dalam bahasa Arab, kata zād berarti bekal—segala sesuatu yang disiapkan seorang musafir untuk menopang perjalanan panjangnya. Bekal bisa berupa makanan, minuman, peralatan, atau apa pun yang membantu agar perjalanan tidak terhenti di tengah jalan. Bagi orang Arab tempo dulu, istilah ini sangat dekat dengan pengalaman sehari-hari, karena perjalanan jauh di padang pasir memang mustahil dilakukan tanpa bekal yang cukup.
Namun, Al-Qur’an menggeser makna zād ini ke dimensi yang lebih dalam. Bekal yang dimaksud bukan sekadar roti, kurma, atau air yang kita bawa, melainkan sesuatu yang lebih menentukan: takwa.
Ibn Katsir, dalam tafsirnya, menekankan bahwa ayat “wa tazawwadu fa inna khaira az-zād at-taqwā” memberi peringatan agar manusia tidak hanya memikirkan logistik duniawi, melainkan juga membawa bekal iman, amal saleh, dan ketaatan. Sebab perjalanan hidup ini pada akhirnya menuju Allah, dan bekal paling berharga untuk sampai dengan selamat adalah ketakwaan.
Al-Qurthubi menambahkan nuansa yang menarik. Menurutnya, bekal takwa adalah benteng yang menyelamatkan seorang hamba dari “kefakiran amal” saat berdiri di hadapan Allah di Hari Perhitungan. Sebab di hadapan Allah, tidak ada arti harta, jabatan, atau prestasi duniawi. Yang menentukan hanyalah bagaimana kita mempersiapkan bekal takwa dalam setiap langkah hidup.
Dengan kata lain, tafsir klasik ini ingin mengingatkan: perjalanan paling panjang dan menentukan bukanlah dari rumah ke pasar, atau dari kota ke kota, melainkan perjalanan kita dari dunia menuju akhirat. Dan dalam perjalanan itu, tidak ada bekal yang lebih aman, lebih kuat, dan lebih menolong selain takwa.

Apa Itu Taqwa
Kalau kita buka Al-Qur’an, kata taqwa sering muncul sebagai syarat utama bagi mereka yang beruntung. Tapi apa sebenarnya taqwa itu?
Para sahabat Rasul punya penjelasan yang indah. Umar bin Khattab pernah mengatakan bahwa taqwa adalah sikap hati-hati agar tidak terperosok ke dalam dosa. Bayangkan seperti orang yang berjalan di jalan penuh duri: ia akan sangat waspada supaya kakinya tidak terluka.
Ali bin Abi Thalib menambahkan, taqwa berarti takut kepada Allah, beramal sesuai wahyu, qana’ah atau merasa cukup dengan yang sedikit, serta menyiapkan diri untuk kehidupan akhirat. Jadi bukan sekadar rasa takut, melainkan juga sikap hidup yang membumi: sederhana, penuh kendali, tapi tetap visioner karena selalu ingat tujuan akhir.
Kalau diringkas dengan bahasa kita sehari-hari: taqwa adalah kompas moral dalam perjalanan hidup. Ia yang menuntun kita saat persimpangan, menahan kita ketika tergoda jalan pintas, dan mengingatkan arah agar tak tersesat dari tujuan sejati.

Haji: Latihan Taqwa
Ibadah haji bukan sekadar perjalanan spiritual menuju Tanah Suci, tetapi juga sebuah madrasah kehidupan yang melatih manusia untuk menumbuhkan dan memperkuat taqwa. Setiap rangkaian ritualnya mengandung pesan moral dan spiritual yang dalam.
Pertama, larangan-larangan ihram menjadi bentuk nyata dari kontrol diri (self-restraint). Jamaah dilarang memotong rambut, memakai wangi-wangian, berburu, hingga melaksanakan hubungan suami-istri. Batasan-batasan ini mengajarkan disiplin dan pengendalian hawa nafsu. Ia menuntun manusia agar tidak hanya taat pada perintah yang kasat mata, tetapi juga menjaga kesucian batin dari sikap sombong, angkuh, dan suka melanggar.
Kedua, wukuf di Arafah menghadirkan momentum tafakkur yang agung. Saat seluruh jamaah berdiri bersama dalam balutan kain putih yang sama, tak ada lagi perbedaan status, jabatan, maupun kekayaan. Semua manusia setara di hadapan Allah. Inilah pengingat bahwa taqwa adalah satu-satunya ukuran kemuliaan yang hakiki.
Ketiga, thawaf dan sa’i merupakan simbol kepasrahan dan ketaatan total kepada Allah. Mengelilingi Ka’bah berulang kali, lalu berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah, adalah latihan kerendahan hati, kesabaran, dan keyakinan penuh bahwa segala urusan hidup bergantung kepada-Nya.
Dengan demikian, seluruh rangkaian ibadah haji sejatinya adalah latihan praktis taqwa. Jamaah diajarkan untuk hidup dengan kesadaran penuh, mengendalikan diri dari larangan, mengingat kesetaraan manusia, serta meneguhkan kepasrahan hanya kepada Allah. Spirit ini diharapkan tidak berhenti di Makkah, melainkan terus mewarnai kehidupan sehari-hari sepulang dari Tanah Suci.

Bekal Pulang: Haji Mabrur
Rasulullah ﷺ bersabda: “Al-ḥajju al-mabrūru laisa lahu jazā’un illā al-jannah” — “Haji mabrur tiada balasan kecuali surga” (HR. Bukhari-Muslim). Hadis ini menegaskan betapa agungnya nilai haji yang diterima Allah.
Namun, haji mabrur bukanlah sekadar selesai menunaikan seluruh rangkaian ibadah dengan tertib. Lebih dari itu, ia merupakan buah nyata dari perubahan akhlak, peningkatan ketakwaan, serta kesalehan sosial setelah jamaah kembali ke tanah air.
Oleh karena itu, bekal terbaik dari haji bukanlah kurma, air zamzam, atau sajadah indah yang dibawa untuk keluarga di rumah. Semua itu hanya pelengkap lahiriah. Bekal terpenting yang seharusnya pulang bersama jamaah adalah taqwa yang mengakar dalam jiwa, kesadaran akan persamaan sesama manusia, serta semangat untuk memperbanyak amal kebajikan.
Haji mabrur menampakkan diri dalam kehidupan sehari-hari: tutur kata yang lebih santun, kepedulian yang lebih tinggi terhadap sesama, serta ketaatan yang lebih teguh dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Inilah buah manis yang jauh lebih berharga daripada oleh-oleh yang sifatnya sementara.

Bekal Sepanjang Hayat
Perjalanan haji bukan sekadar sebuah ritual tahunan, bukan pula sekadar catatan prestasi bahwa kita pernah menjejakkan kaki di Tanah Suci. Sesungguhnya, haji adalah perjalanan rohani yang meninggalkan bekas mendalam dalam hati. Di sana kita diajarkan bahwa semua atribut duniawi akan ditanggalkan. Kita hanya mengenakan ihram, dua helai kain putih yang sederhana, seakan sedang berlatih untuk menghadapi akhir kehidupan.
Karena itu, taqwa adalah bekal sejati. Bukan hanya bekal untuk pulang dari Tanah Suci, tetapi bekal untuk pulang menuju Allah di hari akhir. Koper pakaian akan tertinggal di bandara, koper oleh-oleh akan dibagi di rumah, namun koper taqwa akan kita bawa sampai mati. Inilah yang menentukan perjalanan hidup kita setelah dunia.
Maka mari kita renungkan: perjalanan haji harus menjadi titik balik. Haji mabrur bukan hanya tampak dari gelar “haji” di depan nama, tetapi dari sikap hidup yang penuh kasih, jujur, rendah hati, dan selalu mengingat Allah. Itulah oleh-oleh terbaik untuk keluarga, tetangga, dan masyarakat.
Mari kita jadikan haji sebagai momentum perubahan. Jika sebelumnya lalai, mari kita perbaiki. Jika sebelumnya berat beribadah, mari kita istiqamah. Jika sebelumnya banyak dosa, mari kita perbanyak taubat. Sebab taqwa adalah bekal sepanjang hayat, hingga kelak kita kembali kepada Allah dengan hati yang bersih.
اللهم اجعل حجنا حجا مبرورا، وسعينا سعيا مشكورا، وذنبنا ذنبا مغفورا، وعملا صالحا متقبلا، وتجارة لن تبور، يا عزيز يا غفور.
والله أعلم بالصواب

* * *


–Muhammad Ali

Berita Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer Bulan Ini

Pilihat Editor

No posts found

× Advertisement
× Advertisement