Kajian
Beranda / Kajian / Berhaji/Berumrah dengan Hati

Berhaji/Berumrah dengan Hati

Setiap perjalanan selalu dimulai dengan tujuan. Ketika kita hendak pergi ke pasar atau menempuh perjalanan jauh, kita menentukan arah, menyiapkan kendaraan, bahkan menata rencana cadangan bila terjadi hambatan.

Bayangkan jika tujuan salah atau tidak jelas—perjalanan bisa tersesat, sia-sia, bahkan melelahkan. Begitu pula ibadah haji atau ibadah umrah. Tanpa niat yang lurus, perjalanan agung ke tanah suci bisa kehilangan makna, meski fisik menempuh ribuan kilometer dan koper penuh perlengkapan.

Seorang jamaah yang saya kenal, Pak Hasan, bercerita bahwa ketika pertama kali menjejakkan kaki di Masjidil Haram, ia menangis tersedu-sedu. Bukan karena lelah atau panas terik, tapi karena hatinya dipenuhi rasa syukur: niat yang tulus sejak di rumah akhirnya bertemu dengan realitas tanah suci. Ia menyadari bahwa semua persiapan fisik —tas, paspor, obat-obatan— hanya menjadi pelengkap. Yang utama adalah hati yang sudah siap beribadah, ikhlas karena Allah.

Makna Niat dalam Ibadah
Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى»
“Segala amal tergantung niatnya, dan setiap orang mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi pijakan utama. Niat bukan sekadar lafaz di bibir, melainkan arah hati. Ia yang membedakan antara seseorang yang menunaikan haji dengan sepenuh hati untuk Allah, dengan seseorang yang hanya menunaikan ritual sebagai “wisata religi” atau sekadar menunjukkan status sosial.

Bayangkan dua orang menempuh perjalanan yang sama: satu berniat mencari ridha Allah, satu lagi ingin pamer di media sosial. Fisik mereka sama-sama melelahkan, tapi pahala dan makna perjalanan hanya milik orang yang niatnya lurus. Inilah kekuatan niat: ia mengubah tindakan menjadi ibadah.

Sebaik-baik Bekal Adalah Taqwa

Niat dalam Haji dan Umrah
Ibadah haji dan umrah dimulai dengan niat ihram. Seorang jamaah harus menegaskan di hatinya: apakah ia hendak menunaikan haji, umrah, atau haji tamattu’. Niat ini menentukan seluruh rangkaian manasik yang akan dijalankan, mulai dari tawaf, sa’i, hingga wukuf di Arafah.

Tanpa niat yang tulus, ritual panjang yang melelahkan pun hanya menjadi perjalanan fisik. Banyak jamaah muda yang pertama kali ikut haji terkadang masih sibuk mengambil foto, mengunggah cerita ke media sosial, atau memperhatikan teman-teman sekelompoknya. Padahal, yang menentukan keberkahan ibadah bukan kamera atau kelompok, melainkan hati yang menempel pada niat semata-mata karena Allah.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
«وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ»
“Dan mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Allah dengan ikhlas kepada-Nya dalam agama.”
(QS. Al-Bayyinah: 5)
Ikhlas adalah inti dari niat. Tanpa ikhlas, ibadah haji seperti bunga tanpa aroma: terlihat indah, tapi tidak memberi kesan mendalam.

Niat yang Lurus: Hanya Karena Allah
Fenomena yang sering terlihat adalah orang berangkat haji demi status sosial, demi gengsi keluarga, atau sekadar ikut-ikutan teman. Ada yang bercerita: “Saya berangkat haji agar bisa disebut Pak Haji di kampung, biar anak-anak bangga.” Tidak salah, tapi pahala dan makna ibadah akan berbeda.

Niat yang murni seharusnya hanya mencari ridha Allah, menunaikan rukun Islam, dan membersihkan diri dari kesalahan serta dosa. Seorang jamaah lain, Bu Siti, menulis di jurnal perjalanannya:
“Saya ingin pulang bukan hanya membawa oleh-oleh, tapi membawa hati yang lebih bersih. Setiap langkah di tanah suci adalah upaya menata kembali niat hidup saya.”

Saat hati lurus, setiap langkah di tanah suci penuh pahala. Lelah, panas, dan desak-desakan manusia di Masjidil Haram pun terasa ringan karena hati telah menempel pada niat yang benar.

Pelajaran Hidup dari Niat
Niat bukan hanya penentu perjalanan ibadah, tapi juga penentu langkah hidup sehari-hari. Sama seperti haji, setiap perjalanan dalam hidup—belajar, bekerja, berkeluarga—memerlukan niat yang jelas agar tidak kehilangan arah.
Seorang teman menceritakan pengalamannya mengikuti seminar panjang. Meski materi sama, dua orang yang berbeda niat akan memperoleh manfaat berbeda.

Orang yang hadir sekadar menambah jam kegiatan, merasa lelah dan bosan. Orang yang hadir dengan niat belajar, memperbaiki diri, dan berbagi ilmu, pulang dengan hati puas dan semangat baru. Begitu pula haji: niat yang lurus meluruskan langkah, memberi makna pada setiap usaha, dan menuntun hati menuju tujuan hakiki.

Penutup
Bekal fisik memang penting: koper terisi, paspor siap, perlengkapan lengkap. Tapi bekal rohani, yaitu niat yang lurus dan tulus, jauh lebih menentukan. Ia yang membedakan antara ibadah haji/ibadah umrah yang mabrur dan sekadar perjalanan jauh ke Tanah Suci.

Berhaji/berumrah dengan hati adalah bekal terbaik yang tak tergantikan oleh apa pun. Persiapkan niat, luruskan hati, dan biarkan setiap langkah di Tanah Suci menjadi cermin kesungguhan dalam menjalani hidup. Ketika niat lurus, haji/umrah bukan hanya perjalanan fisik, tapi perjalanan yang mengubah hati, menyejukkan jiwa, dan menata kembali arah hidup kita. (MA) * * *

Berita Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Populer Bulan Ini

Pilihat Editor

No posts found

× Advertisement
× Advertisement